Friday, November 06, 2009

katakan cerai

Katakan cerai, pada mbah sepuh yang datang ke pesta pernikahanmu sendirian dengan batik lusuh dan sandal jepit, dan mbah sepuh lainnya yang datang dengan kain jarik, kebaya tipis dan tapih yang sudah usang.

Katakan cerai, pada tetangga yang diundang ayah ibumu, yang tidak malu datang ke pestamu dengan setelan pakaian yang warnanya bertabrakan karena mungkin dia memang tidak punya baju lain yang lebih pantas.

Katakan cerai, pada tetanggamu yang lain, yang datang bersepeda ontel, mengirim hantaran dalam tenggok berisi beras, gula, dan mie telor, ketimbang uang, karena mungkin mereka memang tidak punya uang berlebih untuk diisikan ke dalam amplop.

Katakan cerai, pada ibu-ibu tetangga yang selama dua hari berturut-turut membantu memasak makanan besar di dapur rumahmu, pada mereka yang mengupasi berkilo-kilo bawang merah sampai matanya mbrebes, pada mereka yang mengolah berpuluh kilogram daging dalam wajan-wajan besar hingga empuk, pada mereka yang sabar menunggui matangnya bergulung-gulung lontong hingga hampir tengah malam.

Katakan cerai, pada juru rias yang sengaja berpuasa tiga hari agar ia bisa merias wajahmu dengan sempurna sehingga kamu menjadi perempuan tercantik ketika ijab kabul diucapkan.

Katakan cerai, pada semua pengiringmu berikut keponakanmu yang masih kecil-kecil itu, yang harus bangun pagi di hari libur mereka, agar acara seserahan bisa berlangsung tepat waktu.

Katakan cerai, pada semua keluargamu yang datang dari luar kota, menempuh perjalanan melelahkan hingga belasan jam, demi untuk memberimu doa-doa dan ucapan selamat.

Katakan cerai, pada bapak yang membiayai pestamu dengan uang tabungan bertahun-tahun dari hasil panen padi di sawah yang cuma sepetak.

Undang kembali mereka semua, hampir seribu nama, dengan kartu undangan terindah yang di atasnya tercetak foto kalian berdua di tengah sawah nan hijau “Mohon doa restu untuk perceraian kami”. Jangan lupa, siapkan dua kotak kayu tempat mereka menaruh amplop berisi uang untuk bekal awal perceraianmu.


Panggung, Magetan, 8 Juli 2007 23.44
Seusai resepsi seorang sepupu
Untuk ratusan mungkin ribuan mungkin juga jutaan
pasangan yang menjadikan 7-7-7 sebagai hari bahagia mereka

Tuesday, September 15, 2009

38 hari

Hey, kamu! Ya, kamu. Aku kenal kamu. Sudah 38 hari kamu berada di sini, bukan? Ah, aku tahu dari raut mukamu itu. Kamu tidak ingin repot-repot menghitung sudah berapa lama kamu di sini, bahkan mungkin kamu tidak ingin repot mengingat-ngingat ‘hari apa ini’ setiap kamu bangun pagi (bangun pagi? ha!). Biar. Tak apa begitu. Biar aku saja yang menghitung hari-harimu di sini. Sudah tugasku. Kamu tenang-tenang sajalah. Nikmati saja liburanmu ini.

Hey, betul bukan kamu sedang liburan? Sebentar, sebentar… aku buka dulu catatanku. Tuh, lihat, ini buktinya: tanggal 10 bulan lalu kamu motor touring menjelajah Ujung Genteng selama tiga hari dua malam. Minggu lalu kamu mengagumi koleksi bebatuan di Museum Geologi. Tanggal 14 nanti kamu akan pergi lagi menyusuri pantai-pantai di Garut, lalu tanggal 21 kamu berencana naik Gunung Gede. Wow! Kesimpulanku pasti tidak salah, karena catatanku tidak pernah salah. Kamu betul-betul sedang berlibur, Manisku!

Tapi hey, kenapa matamu kosong begitu? Gambar apa yang sedang kau tatap? Jangan buang-buang energi. Baiknya kamu matikan saja TV itu. Barrack Obama menang, Amrozi cs akan dieksekusi mati, harga premium turun dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500, Ulfa mengaku senang dikawini Syeikh Puji. Kanjeng Ratu Hemas ikut menolak penetapan UU pornografi. Kalau berita-berita itu kamu tonton hanya untuk menemanimu menghabiskan segelas kopi itu, matikan saja. Duh kamu, dua bungkus kopi diseduh sekaligus dalam gelas sekecil itu, tengah malam begini. Tolong perhatikan ya: total netto dua bungkus kopi susu bubuk itu 64 gram. Kalau kamu insomnia lagi, jangan salahkan aku. Aku bukan spesialis pencatat jam tidurmu. Aku ini si pencatat tetek bengekmu, dan aku yakin tidur tidak termasuk urusan tetek bengek buatmu.

Hey. Knock-knock. Ada apa di dalam sana? Mungkin aku bisa mencoba cari tahu tentang mata kosongmu itu dari rangkaian catatan tetek bengekmu yang ada padaku. Sebentar, sebentar… Akan aku runut-runut.

Siang tadi kamu dibonceng teman baikmu pergi ke Tamim dan Pasar Baru. Sampai Kosambi, sisa-sisa hujan masih turun, lalu motor berhenti buat membeli jas hujan, harganya Rp 65.000. Lima menit setelah itu jari kelingking kaki kirimu berdarah sebab motor teman baikmu itu terlalu mepet ke motor lain. Lukanya tidak seberapa, tapi teman baikmu itu agak panik melihat darah mengucur di tengah hujan dan jalanan becek, sebab dia pernah punya pengalaman infeksi parah hanya gara-gara luka kecil yang terlambat ditangani. Kalian mencari-cari apotek sepanjang Kosambi, tapi tidak ada. Ada klinik pengobatan sederhana di sebelah kiri jalan, tapi motor terlanjur maju memasuki jalan satu arah. Kalian berhenti sebentar di halte Alun-alun, sekedar untuk membeli segelas air mineral dan sebungkus tissue dari penjaja asongan yang mangkal. Di situ juga kamu mencuci luka berdarahmu dengan santai bahkan sambil tertawa-tawa, sementara muka teman baikmu itu meringis melihatmu lalu dia bertanya kepada beberapa orang adakah klinik terdekat dari situ. Sepuluh menit kemudian motor berhenti di pelataran Elim Medical Center di jalan Sudirman. Lima belas menit kemudian kamu keluar dari klinik itu dengan plester di jari kaki, plus plastik kresek putih yang kamu jadikan kaos kaki. Kamu sempat menyayangkan Rp 66.800 hanya untuk luka lecet sekecil itu tapi akhirnya menertawakan “kaos kakimu” itu. “Kita punya hari yang aneh lagi hari ini!” celutukmu gembira.

Hm. Sebentar, sebentar… rasanya ini sudah bukan catatan tetek bengek lagi. Aku tidak semestinya mencatat celutukanmu itu. Itu bukan tetek bengek. Tetek bengek adalah hal-hal seperti misalnya kamu menghabiskan Rp 150.750 di Tamim untuk tiga lembar kain sprei yang masing-masingnya sepanjang 2,25 meter padahal kamu tidak berencana membelinya. Tiga lembar kain sprei?! Siapa yang sedang kamu coba tipu, Manisku? Kamu pikir warna-warna motif kain sprei itu akan bisa membujukmu untuk tidur teratur, heh? Kamu bahkan tidak punya kasur sendiri. Mengapa akhir-akhir ini kamu sering berbuat bodoh, Sayangku? Lihat! Lihatlah catatanku yang ini. Hey! Sini. Jangan palingkan mukamu. Lihat ini! Akhir bulan lalu, tanggal 27, kamu ke Vertex tanpa rencana dan keluar dari situ pukul 15:32 dengan 22 keping DVD! Lalu dua hari kemudian kamu ke sana lagi, kali ini dengan sengaja, dan kamu keluar dari pintu toko itu dengan 28 DVD!!! Arrrgghhh!!!!

Aku tahu kamu gila, tapi kamu tidak pernah segila ini. Aku bahkan tidak berani menghitung ulang total pengeluaranmu selama bulan Oktober. Aku bergidik ketika angkanya muncul di kalkulator.

Oh Manisku, kamu tahu aku sayang kamu. Terlalu sayang. Karena itu mulai hari ini aku berhenti menjadi pencatat tetek bengekmu. Cukup 38 hari. Cukup.

Saat adzan shubuh di Negeri Ujung
7/11/2008 - 04.03

Wednesday, August 19, 2009

masa lalu, suatu saat

Suatu saat, dalam hidupmu, kamu akan terkejut betapa hidup memang betul-betul sependek mimpi absurd yang mudah terlupa. Betapa cepat waktu menanjak membawamu kepada seseorang asing yang kemudian menjadikanmu teman, menjadikanmu teman dekat, menjadikanmu sahabat, menjadikanmu kekasih. Denganmu, dia rela membekukan masanya. Hadirmu, adalah udara baginya. Tanpamu, dia tak merasa ada. Dan kamu ada di puncak waktu.

Lalu bagai seketika terlecut sesuatu, waktu memaksamu segera turun, tangganya licin menukik tajam. Tanpa kamu sadar, ia telah menggelincirkanmu menjadi mantan kekasih, menganggapmu tak lebih sebagai sahabat hanya di kala hatinya penat, menjadikanmu hanya teman dekat, menurunkanmu menjadi teman biasa, menurunkanmu lagi menjadi sekedar teman lama, dan akhirnya kamu cuma sebuah masa lalu yang melintas sekilas, hampir-hampir kembali asing. Lalu kamu mati sebab dia (me)mati(kan) rasa. Kamu mati, sebab terpenjara dalam kotak sejarah yang dia kunci rapat-rapat.

Suatu saat, kamu akan terkejut dengan segala apa yang kamu alami. Kamu akan bertanya-tanya sendiri. “Benarkah semua itu pernah terjadi? Apakah benar aku pernah dicinta dan dipuja sebegitu rupa? Benarkah dia pernah membawaku berkeliling-keliling ke segala penjuru rasa? Apakah benar pula bahwa aku pernah rela merana karena dia? Benarkah aku pernah gila?” Dan kamu memandang tak percaya pada segala jejak waktu yang mulai rapuh terkikis angin.

Sementara, kamu sibuk menyelamatkan masa lalu, mengabadikannya dalam bingkai kata-kata yang tumbuh indah bersulur-sulur, membasuh debu-debu yang melekat pada kenanganmu dengan air mata, memohon keajaiban dalam harapan berbungkus doa-doa.

Hey, berhentilah sebentar dan dengarkan ini: bagaimana kamu akan menyelamatkan masa lalu ketika kamu sendiri adalah masa lalu? Tataplah dirimu untuk terakhir kalinya di cermin buram itu, katakan dengan legawa pada hantu di dalamnya: “Aku, masa lalu”, lalu pecahkan cerminnya. Cermin seburam itu tidak pernah layak menggantung di dinding kamar milik seseorang sepertimu.

Suatu saat, percayalah, hujan badaimu akan segera reda. Kamu akan bisa menganggap asing juga terhadap seseorang asing yang telah menjadikanmu kembali asing itu. Suatu saat, di waktu yang sangat dekat, kamu cuma akan menengok sebentar ke belakang, mungkin dengan menunduk, mungkin dengan satu tetes air mata terakhir, mungkin dengan tanpa kata, atau mungkin cukup dengan tatap mata. Padanya, tatap matamu itu akan datar berkata: “Kamu, masa lalu.” Kemudian kamu menggunting pita.


Radio Dalam
Jumat, 20 Juli 2007/7.11

Friday, July 04, 2008

bangun pagi

aku bangun pagi hari ini.
ajaib.

Friday, June 27, 2008

Kentang dan Kangkung

Sejak harga BBM naik lagi mereka cuma bisa kencan di warteg. Itupun dengan syarat tidak tertulis tidak terkatakan sehingga dengan demikian tidak terbaca dan tidak berbunyi, dan tentu saja tidak berbau. Syarat itu: siapa yang mengajak kencan duluan, dia yang bayar. Syarat kedua: total bill tidak boleh lebih dari Rp 5.000.

“Bagaimana kamu bisa makan seperti itu?”
”Seperti itu bagaimana?”
”Makan hanya dengan nasi dan kentang. Dua-duanya kan karbohidrat.”
”Aku suka sekali kentang. Ah, lagipula lihat tuh isi piringmu, cuma nasi dan kangkung.”
”Aku suka sekali kangkung. Ah, lagipula lihat tuh isi piringmu, cuma nasi dan kentang.”
”Ih, kalimatnya dejavu.”
”Hahaha...”

”Tapi setidaknya nasi dan kangkung kan hanya salah satu saja yang karbohidrat.”
”Sudahlah. Lagipula kebutuhan kalori laki-laki kan lebih besar daripada perempuan”
”Ih, pembenaran. Dasar laki-laki.”
”Ih, jender. Dasar perempuan.”
”Hahaha...”

22 hari kemudian

”Hai Potato...”
”Hai Kangk – eh, apa sih kangkung dalam bahasa Inggris?”

Si perempuan merogohkan tangan ke dalam tasnya, membuka Alfalink seri EI-826 kesayangannya yang tipis berwarna abu-abu metalik, mengetik: k a n g k u n g. Lalu dia menyerahkan benda itu ke tangan si laki-laki. Di monitornya terbaca:
kangkung = large frog

Wednesday, May 14, 2008

what's the meaning?

97.625

Friday, March 28, 2008

This Boy

This Boy
by James Morrison



This boy wants to play
There's no time left today
It's a shame ‘cause he has to go home

This boy's got to work
Got to sweat just to pay what he gets to get left all alone

Well let's step outside
Let's go for a ride
Just for a while
No we won't get caught
Well that's what I thought, until we cried

I'm still here
But it hasn't been easy
I'm sure that you had your reasons
I'm scared of all this emotion
For years I've been holding it down
For years I've been holding it down

This girl tries her best everyday
But it's all gone to waste ‘cause there's no one around
This girl she can draw she can paint
Likes to dance she can skate
Now she don't make a sound

We’ll play in our park
'Till it's too dark for us to see
Well we'll make our way home
With mud on our clothes
She won't be pleased

I'm still here
But it hasn't been easy
I'm sure that you had your reasons
I'm scared of all this emotion
For years I've been holding it down

And I’d love to forgive and forget
So I’ll try to put all this behind us
Just know that my arms are wide open
The older I get, the more that I know

Well it's time to let this go.

I got to let it go
I got to let it go
I got to let it go
I got to let it go
I got to let it go

Monday, March 24, 2008

Do what you love!

“When I am not climbing, I am dreaming of climbing,” says Tommy Heinrich.

Tommy Heinrich shot “Ice Warriors,” the story of a Polish team’s ascent of Pakistan’s Nanga Parbat. This is the Argentine photographer’s first assignment for National Geographic.
(People Behind the Stories – National Geographic, January 2008 edition)


***


And Ayra goes mumbling,
“When I’m not hiking, I am dreaming of hiking.”
“When I’m not swimming, I am dreaming of swimming.”
“When I’m not traveling, I am dreaming of traveling.”
“When I’m not handcrafting, I am dreaming of handcrafting.”
“When I’m not writing, I am dreaming of writing.”
“When I’m not thinking, I am dreaming of thinking.”
“When I’m not dreaming, I am dreaming of dreaming.”

Haha!


***

Build your dream. Brick by brick. To the limit.
F1H 244. Monday, March 10, 2008. 3:26.

Monday, March 17, 2008

Pengakuan

"Tuhan..."
"Ya?"
"Aku sombong."
"Hehe."

Tuesday, March 11, 2008

Kerupuk

Sabtu. Libur. Ayra tidur. Tidur sepuas-puasnya tidur. Tanpa melindur, tanpa mimpi-mimpi ngelantur yang biasanya datang hanya untuk saling bertempur saling terbentur. Ini adalah sabtu libur yang pure. Pure tidurrrrrrrrrr...

Sore. Lapar. Bangun. Sadar.
Di luar hujan. Di meja tidak ada makanan. Di laci tidak ada cemilan. Coklat koin Euro oleh-oleh Mas Ari dari Brussel sudah habis semalam. Yang belum habis tinggal ceritanya tentang kota itu dan kesetiaannya yang tidak pernah luntur pada komik Tintin, dan bahwa keajaiban terjadi pada mereka yang setia pada mimpi. ”Wah, itu memang negerinya Tintin! Bahkan replika pesawat jet yang melesatkan Tintin ke bulan dipasang di airportnya, Ra!” serunya antusias. Tapi sesekali Mas Ari selingkuh juga. Kemarin malam ia terkekeh-kekeh sendiri dengan komik Sawung Kampret di tangan. Ayra suka sekali melihat Mas Ari terkekeh-kekeh begitu. Matanya sipit, perutnya ndut. Persis Semar. Tapi Mas Ari sudah tidak ada.

Yang ada cuma kerupuk. Seplastik krupuk. Kerupuk-kerupuk bodoh, umpat Ayra. Ayra tidak pernah pernah bercerita kepada siapapun bahwa ia punya kebiasaan buruk dengan kerupuk. Ia selalu lupa mengeluarkan kerupuk dari kantong plastiknya tiap kali membeli nasi goreng, atau kwetiau, atau bihun goreng, atau capcay, atau mie goreng, atau nasi gila, atau segala macam makanan yang bisa dibuat di satu gerobak dorong itu saja (hebat ya si Mang Nasi Goreng itu?).

Waktu nasi goreng, kwetiau, bihun goreng, capcay, mie goreng, nasi gila, atau apapun makanan yang bisa dibuat dari satu gerobak dorong saja itu sudah habis, barulah Ayra sadar, bahwa kerupuknya lupa dimakan. Tapi memakan kerupuk saja tanpa makanan utama, rasanya tidak enak. Cuma, untuk membuangnya pun Ayra tidak tega. Jadi setiap terlupa dengan kerupuk, ia simpan begitu saja di meja, lalu kembali melupa. Kali berikutnya ia membeli nasi goreng, ia baru teringat bahwa masih ada seplastik kerupuk dari nasi goreng empat hari lalu. Sudah melempem. Tapi sial, bahkan membuang kerupuk melempem pun dia masih juga tidak tega. Sial.

HP bergetar
“Halo?”
“Di mana? Lagi ngapain?”
“Di kasur. Tidur.”
“Tidur kok bisa ngomong?”
Garing ah.
Klik.

HP bergetar
“Halo?”
“Neng, baju-baju udah selesei disetrika. Sekarang Bibi harus ngapain?”
“Tidur, Bi. Sabtu itu libur. Bibi tau nggak Pure Saturday?”
“Oh, bedak pupur? Mau Bibi ambilin dari laci?”
“Hihi... iya Bi, ambilin. Ayra mau dandan yang cantik sore ini. Hihi...”

HP bergetar.
“Halo?”
“Hujan nih.”
“Ada makanan?’
“Ini hujan, honey.”
“Perutku laper, geblek.”
Klik.

HP bergetar.
“Halo?”
“Aku gak bisa. Putus aja.”
“Ok. Bye.”

HP bergetar.
“Halo?”
“Aku kangen suaramu.”
“Ok. Bye.”

HP bergetar.
“Halo?”
“Kamu denger gak barusan aku omong apa?”
“Yang mana? Putus apa kangen?”
“Dua-duanya.”
“Denger.”
“Lalu?”
“Iya. Putus kan?
“Kangen.”
“Putus aja.”
“Kangen aja.”
“Putus!”
“Kangen!”
“Putus! Tusss!!!”
“Kangen! Kang!!!”
“Tussss!!!!!”
“Kaaaanggggg!!!!”
“Tus!”
Klik.

Datar. Ayra duduk di kursi rotan datar. Masih lapar. National Geographic terbaru tergeletak di samping. Bentuknya segiempat bingkai kuning datar. Rolling Stones, Prodo, Box Magazine, Visual Art, Concept, Horison, Time, Prestige, Gatra, Kabar, Kriya, FutureArc, DestinAsian. Bertumpuk-tumpuk membentuk kotak vertikal yang datar menjemukan. Tujuh Paulo Coelho berserakan di kolong kursi. Kecil-kecil, enteng. Bentuknya juga datar. (“Apakah rasa datar, Guru?”. “Hambar, Anakku.”)

Kursi. Majalah. Buku. Ayra. Rasa. Datar.
Majalah. Buku. Ayra. Rasa. Datar. Kursi.
Buku. Ayra. Rasa. Datar. Kursi. Majalah.
Ayra. Rasa. Datar. Kursi. Majalah. Buku
Rasa. Datar. Kursi. Majalah. Buku. Ayra.
Datar. Kursi. Majalah. Buku. Ayra. Rasa.
Kursi. Majalah. Buku. Ayra. Rasa. Datar.

Juga TV. Layar datar.
Ada laki-laki berwajah datar, kata orang namanya gHost. gHost memandu acara kuis Super Konyol Super Absurd. Dia bisa mengajukan pertanyaan apa saja semau dia, dan dia akan memberi hadiah tak terduga kepada siapapun yang bisa memberi jawaban super konyol dan atau super absurd. Tingkat absurditas pertanyaan, jawaban dan hadiah kuis tentu saja sepenuhnya hak prerogratif gHost. Toh dia produser acara, sutradara, script writer, host tetap, sekaligus pemasang iklan, kadang-kadang dia merangkap camera man. Dia sangat tahu siapa dirinya dan punya bertumpuk-tumpuk t-shirt hitam sekali buang yang semuanya bertulisan: “Mau apa lo?”, “Lo mau apa?”, “Apa mau lo?”, “Heh!”

Tapi gHost juga manusia. Manusia ekonomis bisnis yang mencipta pasar, memanfaatkannya, untuk kemudian ikut arus kemauannya. Buat menarik pemirsa, ia pasang selebritis terkenal di kuisnya itu. Anehnya, semua selebritis yang masuk acaranya dalam waktu kurang dari empat bulan pasti mati. Dengan mendadak, dengan tragis, dengan dramatis, dengan miris.

Herannya, kebanyakan selebritis berebut ingin masuk ke acaranya. Sebab hadiahnya mengejutkan. Sebab, yang mengejutkan biasanya membuat hidup lebih hidup. Sebab, mereka bilang mereka menjalani hidup tapi tidak pernah merasa hidup, maka mereka merindu mati. Sebab, mereka bilang, berani mati adalah berani hidup, maka berebut mencari mati adalah berebut mendapati hidup.

Daftar antrian acara gHost teramat panjang meliuk-liuk. Seperti ular. Ular belang kuning hitam, kamu tahu? Si gHost tidak pernah memilih selebritis berdasarkan urutan antrian. Dia tinggal tunjuk hidung. Itu saja. Telunjuknya ajaib. Yang punya telunjuk merasa dirinya ajaib. Tapi sekali kena tunjuk, yang punya hidung merasa lebih ajaib daripada yang punya telunjuk. Bahkan ihwal giliran siapa yang ditunjuk itu saja sudah menjadi satu keajaiban tersendiri.

Kejutan lain, kadang-kadang hadiah kuisnya cuma sebatang coklat wafer merek Superman, atau coklat lengket di gigi merek Ayam Jago, kotak bekas bungkus obat jerawat kocok, setangkai bunga tulip kering asli dari Belanda, selembar buku tipis bersampul ungu tua dengan merek Letjes, boneka panda koleksi masa kecil yang hilang. Kadang yang lain adalah sebuah trip ke Angel Waterfall atau Machu Pichu. Tiga malam menginap di gubuk petani singkong di Kampung Dayak. Menonton DVD selama 24 jam nonstop. Tiket menikah dengan sesama peserta kuis. Voucher poligami. Rafting malam 5 jam dengan mata dibebat di Sungai Citarik. Kunjungan 3,5 menit ke Pantai Lasiana. Vonis AIDS dari dokter kulit. Paragliding tandem bareng selebritis yang paling takut ketinggian. Dan untuk semua hadiah kuis itu, hampir semua pengisi acara kuis pasti spontan berteriak, atau misuh-misuh. Apapun, kalimat yang keluar punya makna yang tetap sama: kutu kupret! Hanya dengan kutu kupret mereka merasa hidup.

Tapi melihat ekspresi mereka, mimik Ayra tetap datar, sedatar kursi, sedatar layar TV. Sedatar jerawatnya yang langsung kempes setelah disuntik kemarin siang di klinik kulit yang haus duit.

Ayra tidak pernah tertarik dengan segala macam kuis apapun. Sebab apa? Oh, tentu saja sebab dia pernah bekerja sebagai pembuat pertanyaan kuis-kuis konyol itu. Setiap hari ia dipaksa membuat ratusan pertanyaan kuis konyol. Satu tahun empat bulan bekerja menjadi pembuat kumis, eh pembuat kuis, ia sudah melahirkan ribuan mungkin jutaan kuis konyol. Ia tahu betapa di balik itu semuanya lebih konyol lagi. Kamu tahu siapa yang sengaja tidak sengaja menjadi pemenang tayangan perdana kuis interaktif Ramadhan di sebuah stasiun TV swasta sekitar bulan Oktober 2004? Dia. Ayra. 500 ribu. Dia juga. Ayra. Yang membuat 500 nomor pertanyaan pengumpan untuk kuis itu, agar orang rajin senam jempol untuk kemudian jadi rajin ikut kuis TV. Dan seluruh orang yang menonton acara kuis live di stasiun TV swasta sekitar bulan Oktober 2004 saat itu dibuat percaya bahwa pemenangnya adalah seseorang yang beruntung bernama Ibu Ira beralamat di Tomang yang dengan susah payah masuk on air ke sebuah acara TV. Saat itu Ayra tidak sedih tidak gembira. Hanya aneh-aneh-senang-gila, karena beroleh tambahan THR tak terduga. Haha.

Tapi dua tahun kemudian, sebuah Sabtu bisa mengubah segalanya. Dan ia menjadi satu di antara berjuta-juta orang konyol lain di dunia ketika tangannya iseng memutar knop radio dan dari kotak suara itu mengudara acara review film dengan hadiah VCD original film yang sedang dibahas. Sabtu itu membawa aura iseng yang aneh. Itu pertama kalinya ia dengan sengaja ikut kuis, dan hanya dengan sekali iseng itu ia menang. Aneh. Gila. Lalu, lagi. Tapi kali ini dengan rasa senang (bukankah hal iseng yang aneh dan gila itu cenderung membuat seseorang kecanduan?). Sabtu selanjutnya setelah itu ia selalu mendengarkan acara yang sama. Belum sampai dua bulan, ia mendapat lagi hadiah VCD. Ayra senang lagi, dan melupa, bahwa senang itu mencandu. Eh, iseng itu mencandu (tapi iseng itu indah, kata salah satu cerpen Danarto).

Pertanyaan-pertanyaan di kuis Super Konyol Super Absurd, kadang menyenangkan, kadang menyebalkan, tidak pernah ada yang tahu. gHost akan terlebih dulu melemparkan pertanyaan pada empat selebritis terpilih. Kalau kebetulan salah satu dari mereka menjawab dengan jawaban konyol paling absurd, dia berhak mendapat hadiah. Kalau tidak bisa menjawab, pertanyaan ia lemparkan pada ketiga selebritis lain. Kalau masih tidak bisa juga, kesempatan diberikan kepada pemirsa TV yang entah dengan kekuatan iseng apa sempat-sempatnya mengikuti acara sekonyol itu. Mungkin mereka memiliki berlipat-lipat kali kekuatan iseng semacam yang dimiliki Ayra di Sabtu ajaib itu.

“Apa rasanya jatuh cinta?” tanya gHost yang selalu melepas t-shirt sekali pakainya dan berganti dengan kostum ular belang setiap kali shooting.
“Jatuh cinta? Uh, berbunga-bunga!” jawab seorang kontestan selebritis.
“Basi. Hadiah batal.”

“Apa rasanya jatuh cinta?” gHost melempar pertanyaan ke selebritis di sebelah selebritis pertama tadi, yang matanya tiba-tiba meredup hanya karena jawabannya dikatai basi.
“Membuat hidup lebih hidup!”
“Halah. Slogan iklan rokok. Gak kreatiP.”

“Apa rasanya jatuh cinta?” giliran pertanyaan pada selebritis ketiga.
“Gak ada elo gak rame!”
“Euleuhhh… ari si Akang. Pan tadi slogan iklan rokok udah dibahas. Tape deeeehhh.”

Jawaban selebritis keempat tidak kalah tidak kreatiP. gHost tampak kesal sendiri. Mungkin ia berpikir, kenapa orang jatuh cinta selalu begitu-begitu saja? Basi. Sepertinya dunia sudah lama basi. Ia tampak bosan, berganti kostum ular belang kuning hitam dengan merah hitam, lalu mengganti pertanyaan.

“Apa rasanya putus cinta?”
Pertanyaan ditujukan kepada salah seorang selebritis, yang menurut infotainment baru saja ditinggal pergi oleh pacarnya yang tiga bulan lalu menghamili dia, untuk kemudian kabur dengan tante janda cantik nan kaya.
Si selebritis tidak menjawab. Hanya sebuah tempeleng di pipi kiri. Plak!
“Another basi-ness. Hadiah batal. Silahkan pemirsa, Anda boleh ikut menjawab. Jangan lupa sebut dulu password kuis dan kode peserta.”

“Super konyol super absurd. 0044.”
“Superb! Apa rasanya putus cinta, Mas?”
“Seperti menggantung baju di balik pintu.”
“Uh uh uh. Nyaris. Tapi kurang nendang, Mas.”

“Super konyol super absurd. 7766.”
“Superb! Apa rasanya putus cinta, Bu?”
“Seperti beli jus mangga di siang hari bolong dengan sisa uang terakhir, lalu tiba-tiba tumpah hanya gara-gara kesandung batu.”
“Panjang amiiirrrrrrrrrrr. Next!”

Ayra terkikik geli. Ia tahu sebuah Sabtu seperti ini tidak akan terjadi lagi sampai kapanpun. Maka ia membuka flip telepon genggam mungilnya. Tidak masalah apakah ia akan mendapat hadiahnya atau tidak. Kalaupun ia gagal, ia masih bisa bilang kepada si gHost, “Terimakasih, kamu sudah membuatku tertawa Sabtu sore ini.” atau hanya untuk berkata, “I love you, Man, because you're so absurd!”

“Super konyol super absurd. 3377.”
“Superb! Apa rasanya putus cinta?”
“Seperti makan seplastik kerupuk melempem.”
”Ada kerupuk melempem di dekatmu sekarang?”
”Ada. Ini aku lagi makan nih.Macem-macem: kerupuk udang, kerupuk beras, kerupuk terasi, kerupuk mie, kerupuk aci, kerupuk gurilem, kerupuk palembang, kerupuk kulit... Melempem semua.”
“Ha? Hahaha... Kerupuk jengkol, kerupuk emping, kerupuk bawang, kerupuk rorombeheun, kerupuk pelangi, kerupuk bondon... Berbahagialah kita hidup di negeri kerupuk, Non!”
”Sangat!”
”Maka inilah hadiah buatmu: Ekspedisi Kerupuk! Kamu berhak mendapat tiket ke Kepulauan Raja Ampat plus peralatan diving dan snorkeling bersama Mas nomor 0044. Berangkat besok pagi dengan pesawat yang boleh kamu pilih sendiri: Garuda, Merpati, Lion, Batavia, Adam Air...”
“Saudi Arabian Airlines!”
“You got it! Oya, it's a window seat, Mam. Take the pictures as many as you want!”

Wow! Ayra terlonjak dari kursi rotan datarnya. Lalu dalam kegirangan tak terkira, ia meledak dengan dentum hampa ke semesta. Namun dirinya masih berwujud. Transparan. Tidak menangis, tidak tertawa. Tangannya merentang lebar. Melayang. Juga seplastik kerupuk melempem yang seketika berubah rupa jadi awan. Bergumpal-gumpal awan. Sabtu sore, satu plastik awan ia makan semua.

***


Untuk sebuah hahahihi di Sabtu sore berhujan Desember 2006.
Radio Dalam, Sabtu 16 Desember 2006/16.51 - Stasiun Hall, Minggu 9 Maret 2008/ 16.37

Wednesday, November 14, 2007

will you

be silent, please?